CARI

MAKALAH EKONOMI PENDAPATAN NASIONAL

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
      Salah satu indicator teleh terjadinya alokasi yang efisien secara makro adalah nilai output nasional yang dihasilkan sebuah perekonomian pada suatu periode tertentu sebab, besarnya output nasional dapat menunjukkan  beberapa hal penting dalam sebuah perekonomian.
Yang pertama, besarnya output nasional merupakan gambaran awal tentang seberapa efisien sumber daya yang ada dalam perekonomian (tenaga kerja, barang  modal, uang, dan kemampuan kewirausahaan) digunakan untuk memproduksi barang dan jasa. Secara umum, makin besar pendapatan nasional suatu Negara, semakin baik efisiensi alokasi sumber daya ekonominya.
Yang kedua, besarnya output nasional merupakan gambaran awal tentang produktivitas dan tingkat kemakmuran suatu Negara. Alat ukur yang disepakati tentang tingkat kemakmuran adalah output nasional perkapita.nilai output perkapita diperoleh dengan cara membagi besarnya output nasional dengan jumlah penduduk pada tahun yang bersangkutan. Jika angka output perkapita makin besar , tingkat kemakmuran dianggap makin tinggi. Sementara itu alat ukur tentang produktivitas rata-rata adalah output pertenaga kerja. Makin besar angkanya, makin tinggi produktivitas tenaga kerja.
Yang ketiga, besarnya output nasional meripakan gambaran awal tentang masalah-masalah structural (mendasar) yang dihadapi suatu perekonomian. Jika sebagian besar output nasional dinikmati oleh sebagian kecil penduduk, maka perekonomian tersebut mempunyai masalah dengan distribusi pendapatannya. Jika sebagin besar output nasional berasal dari sector pertanian (ekstraktif), maka perekonomian tersebut berhadapan dengan masalah ketimpangan struktur produksi. Dalam arti perekonomian harus segera memoderenisasikan diri,  dengan memperkuat industrinya, agar ada keseimbangan kontribusi antara sektor pertanian yang dianggap sebagai sektor ekonomi tradisional dengan sektor industry yang dianggap sebagai sektor ekonomi modern.
Itulah sebabnya perhitungan pendapatan nasional, yang lebih dikenal sebagai pendapatan nasional, merupakan pokok pembahasan awal dalam teori ekonomi makro. Tanpa memiliki pemahaman yang benar tentang konsep pendapatan nasional, kita tidak akan melakukan diskusi/pembahasan tentang model-model ekonomi makro. Apalagi tentang analisis kebijakannya. Istilah  yang paling sering dipakai untuk pendapatan nasional adalah produk domestic bruto (PDB) atau gross domestic product (GDP). Istilah tersebut merujuk pada pengertian :
nilai barang dan jasa akhir berdasarkan harga pasar, yang diproduksi oleh sebuah perekonomian dalam satu periode (kurun waktu) dengan menggunakan factor-faktor produksi yang berada (berlokasi) dalam perekonomian tersebut”
Tercakup dalam definisi diatas adalah :
1.     Produk dan jasa akhir, dalam pengertian barang dan jasa yang dihitung dalam PDB adalah barang dan jasa yang digunakan pemaki terakhir (untuk konsumsi).
2.     Harga pasar, yang menunjukan bahwa nilai output nasional tersebut dihitung berdasarkan tingkat harga yang berlaku pada periode yang bersangkutan.
3.     Factor-faktor produksi yang berlokasi di Negara yang bersangkutan, dalam arti perhitungan PDB tidak mempertimbangkan asal factor produksi (milik perekonomian atau milik asing) yang digunakan dalam menghasilkan output.
Mungkin yang jadi pertanyaan adalah bagaimana cara menghitungnya dan masalah –masalah apa yang timbul dari cara penghitungan tersebut. Mengingat kegiatan yang dianalisis dalam teori ekonomi makro lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan teori ekonomi makro, maka ada dua langkah yang harus dilakukan sebelum mampu menghitung PDB. Langkah pertama adalah pemahaman tentang siklus aliran pendapatan dan pengeluaran dalam konteks makro. Langkah kedua adalah bagaimana (lewat pasar-pasar apa saja) para pelaku ekonomi berinteraksi.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu :
1.     Sejarah pendapatan nasional
2.     Pengertian pendapatan nasional
3.     Konsep pendapatan nasional
4.     Factor yang mempengaruhi pendapatan nasional
5.     Perhitungan pendapatan nasional
6.     Pendekatan dalam perhitungan pendapatan nasional (y)

1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini , yaitu :
1.     Untuk mengetahui Sejarah dari pendapatan nasional
2.     Untuk mengetahui Pengertian dari pendapatan nasional
3.     Untuk mengetahui Konsep-konsep apa saja yang terdapat dalam pendapatan nasional
4.     Untuk mengetahui Factor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi pendapatan nasional
5.     Untuk mengetahui bagaimana cara Perhitungan pendapatan nasional
6.     Untuk mengetahui Pendekatan-pendekatan apa saja yang termasuk  dalam perhitungan pendapatan nasional (y) 
DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan Penulisan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Pendapatan Nasional
2.2 Pengertian Pendapatan Nasional
2.3 Konsep Pendapatan Nasional
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nasional
2.5 Perhitungan Pendapatan Negara
2.6 Pendekatan dalam Perhitungan Pendapatan Nasional (Y)
- Perhitungan Pendapatan Nasional (Y) 
3.1 Perhitungan Pendapatan Nasional Dengan Pendekatan Dua Sektor
3.2 Perhitungan Pendapatan Nasional Dengan Pendekatan Tiga Sektor
3.3 Perhitungan Pendapatan Nasional Dengan Pendekatan Empat Sektor
4.1Perhitungan Angka Pengganda Dengan Pendekatan Dua Sektor
4.2Perhitungan Angka Pengganda  Dengan  Pendekatan Tiga Sektor
4.3 Perhitungan Dengan Pendekatan Empat Sektor

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Daftar Pustaka

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejaran Pendapatan Nasional
Konsep pendapatan nasional pertama kali dicetuskan oleh Sir William Petty dari Inggris yang berusaha menaksir pendapatan nasional negaranya(Inggris) pada tahun 1665. Dalam perhitungannya, ia menggunakan anggapan bahwa pendapatan nasional merupakan penjumlahan biaya hidup (konsumsi) selama setahun. Namun, pendapat tersebut tidak disepakati oleh para ahli ekonomi modern, sebab menurut pandangan ilmu ekonomi modern, konsumsi bukanlah satu-satunya unsur dalam perhitungan pendapatan nasional. Menurut mereka, alat utama sebagai pengukur kegiatan perekonomian adalah Produk Nasional Bruto (Gross National Product, GNP), yaitu seluruh jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tiap tahun oleh negara yang bersangkutan diukur menurut harga pasar pada suatu negara.

2.2 Pengertian Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode,biasanya selama satu tahun.
2.3 Konsep Pendapatan Nasional
Berikut adalah beberapa konsep pendapatan nasional
  • Produk Domestik Bruto (GDP)
Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor.
Peningkatan/ pertumbuhan GDP Tingkat pertumbuhan ekonomi Pertumbuhan GDP, karena:
1. Perubahan ketersediaan resources
2. Peningkatan produktifitasà efisiensi
penggunaan resources ­Pengukuran GDP Berdasarkan sirkulasi kegiatan ekonomi, GDP dapat diukur dalam 2(dua) cara, yaitu sebagai:
1.     Total nilai dari aliran produk akhir
2.     Total biaya atau penghasilan input yang digunakan untuk memproduksi output
Karena profit merupakan konsep residu, maka kedua cara tersebut menghasilkan total GDP yang sama.
  • Produk Nasional Bruto (GNP)
Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.
  • Produk Nasional Neto (NNP)
Produk Nasional Neto (Net National Product) adalah GNP dikurangi depresiasi atau penyusutan barang modal (sering pula disebut replacement). Replacement penggantian barang modal/penyusutan bagi peralatan produski yang dipakai dalam proses produksi umumnya bersifat taksiran sehingga mungkin saja kurang tepat dan dapat menimbulkan kesalahan meskipun relatif kecil.
  • Pendapatan Nasional Neto (NNI)
Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah, dll.
  • Pendapatan Perseorangan (PI)
Pendapatan perseorangan (Personal Income)adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Pendapatan perseorangan juga menghitung pembayaran transfer (transfer payment).Transfer payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu, contoh pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah, dan sebagainya. Untuk mendapatkan jumlah pendapatan perseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan), dan iuran pensiun (iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja).
  • Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)
Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.

2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Nasional
  • Permintaan dan penawaran agregat
Permintaan agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan permintaan terhadap barang-barang dan jasa sesuai dengan tingkat harga. Permintaan agregat adalah suatu daftar dari keseluruhan barang dan jasa yang akan dibeli oleh sektor-sektor ekonomi pada berbagai tingkat harga, sedangkan penawaran agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan penawaran barang-barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan dengan tingkat harga tertentu.
Konsumsi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi pendapatan nasional Jika terjadi perubahan permintaan atau penawaran agregat, maka perubahan tersebut akan menimbulkan perubahan-perubahan pada tingkat harga, tingkat pengangguran dan tingkat kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Adanya kenaikan pada permintaan agregat cenderung mengakibatkan kenaikan tingkat harga dan output nasional (pendapatan nasional), yang selanjutnya akan mengurangi tingkat pengangguran. Penurunan pada tingkat penawaran agregat cenderung menaikkan harga, tetapi akan menurunkan output nasional (pendapatan nasional) dan menambah pengangguran.
  • Konsumsi dan tabungan
Konsumsi adalah pengeluaran total untuk memperoleh barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), sedangkan tabungan (saving) adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Antara konsumsi, pendapatan, dan tabungan sangat erat hubungannya. Hal ini dapat kita lihat dari pendapat Keynes yang dikenal dengan psychological consumption yang membahas tingkah laku masyarakat dalam konsumsi jika dihubungkan dengan pendapatan.
  • Investasi
Pengeluaran untuk investasi merupakan salah satu komponen penting dari pengeluaran agregat.
2.5 Perhitungan Pendapatan Negara
Pendapatan negara dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu:
  • Pendekatan pendapatan, dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa, bunga, dan laba) yang diterima rumah tangga konsumsi dalam suatu negara selama satu periode tertentu sebagai imbalan atas faktor-faktor produksi yang diberikan kepadaperusahaan.
– Rumus Pendekatan pendapatan : Y = R + W + I + P
R    = rent       = sewa
W   = wage    = upah/gaji
I      = interest = bunga modal
P    = profit     = laba
  • Pendekatan produksi, dengan cara menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari bidang industriagrarisekstraktifjasa, dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai produk yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan bahan mentah atau barang setengah jadi).
–          Rumus Pendekatan produksi : Y = Y = (PXQ)1 + (PXQ)2 +…..(PXQ)n
P = harga
Q = kuantitas
  • Pendekatan pengeluaran, dengan cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu: Rumah tangga (Consumption), pemerintah (Government), pengeluaran investasi (Investment), dan selisih antara nilai ekspor dikurangi impor ()
– Pendekatan Pengeluaran : Y = C + I + G + (X-M)
C    = konsumsi masyarakat
I      = investasi
G    = pengeluaran pemerintah
X    = ekspor
M    = impor
– Rumus menghitung pertumbuhan ekonomi adalah sebagai berikut :
g = {(PDBs-PDBk)/PDBk} x 100%
g = tingkat pertumbuhan ekonomi PDBs = PDB riil tahun sekarang PDBk = PDB riil tahun kemarin

Contoh soal :
PDB Indonesia tahun 2008 = Rp. 467 triliun, sedangkan PDB pada tahun 2007 adalah = Rp. 420 triliun. Maka berapakah tingkat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 jika diasumsikan harga tahun dasarnya berada pada tahun 2007 ?
jawab :
g = {(467-420)/420}x100% = 11,19%
Pada hakekatnya sistem tersebut adalah suatu cara pengumpulan informasi mengenai perhitungan:
1.     Nilai barang-barang dan jasa yang diproduksikan dalam suatu negara.
2.     Nilai berbagai jenis pengeluaran ke atas produk nasional yang diciptakan.
3.     Jumlah pendapatan yang diterima oleh berbagai faktor produksi yang digunakan untuk menciptakan produksi nasional tersebut.
Untuk menghitung nilai barang dan jasa yang diciptakan oleh suatu perekonomian tiga cara perhitungan dapat digunakan, yaitu:
1.     Cara pengeluaran
Dengan cara ini pendapatan nasional dihitung dengan jumlah pengeluaran ke atas barang dan jasa yang diproduksikan dalam negara tersebut.
2.  Cara produksi atau cara produk neto
Dengan cara ini pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan nilai produksi barang atau jasa yang diwujudkan oleh berbagai sektor (lapangan usaha) dalam perekonomian.
3.  Cara pendapatan
Dalam perhitungan ini pendapatan nasional diperoleh dengan cara menjumlahkan pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang digunakan untuk mewujudkan pendapatan nasional.
2.6 Pendekatan dalam perhitungan pendapatan nasional (Y)

Ada 3 pendekatan untuk mengetahui besarnya pendapatan nasional, yaitu:
1)    Pendekatan produksi atau pendekatan nilai tambah atau value added approach.
2)    Pendekatan pendapatan atau income approach atau earning approach.
3)    Pendekatan pengeluaran atau expenditure approach.
GNP (Gross National Product) atau PNB (Produk Nasional Bruto) didefinisikan sebagai nilai pasar untuk semua barang dan jasa akhir yang dihasilkan dalam suatu perekonomian selama satu tahun.

3.   PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL (Y)

3.1. PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL DENGAN PENDEKATAN DUA SEKTOR
Perhitungan pendapatan keseimbangan 2 sektor terdiri dari variabel konsumsi (C) dan investasi(I).
Y = C + I
(C = a + by)
Y = (a + by) + I
Y = a + by + I
Y – by = a + I
(1 – b)Y = a + I
Y = a + I
       1 – b
Contoh: Dimisalkan (dalam milyar rupiah) fungsi konsumsi (C) = 20 + 0,75Y dan besarnya investasi (I) = 10, maka besarnya pendapatan nasional dengan pendekatan 2 sektor adalah sebagai berikut.
Jawab:
Y = a + I
       1 – b
  
20 + 10
   1– 0,75
   =  30
      0,25  = 120 milyar rupiah
3.2 PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL DENGAN PENDEKATAN TIGA SEKTOR
Perhitungan pendapatan keseimbangan 3 sektor terdiri dari variabel konsumsi (C) investasi (I), pengeluaran pemerintah (G), pajak (TX) dan pembayaran transfer (Tr).
Y = C + I + G
(C = a + byd)
Y = a + b (y – Tx +Tr) + I + G
Y = a + by – bTx + bTr + I + G
Y – by = a – bTx + bTr + I + G
(1 – b) Y = a – bTx + bTr + I + G
Y = a – bTx + bTr + I + G
                    1 – b
Contoh: Dimisalkan (dalam milyar rupiah) fungsi konsumsi (C) = 20 + 0,75Y. Besarnya investasi (I) = 10, pengeluaran pemerintah (G) = 8, pajak (TX) = 6 dan pembayaran transfer (Tr) = 5, maka besarnya pendapatan nasional dengan pendekatan 3 sektor adalah sebagai berikut.
Jawab:
Y = a – bTx + bTr + I + G
                    1 – b
   = 20 – 0,75(6) + 0,75(5) + 10+ 8
                    1 – 0,75
   = 149 milyar rupiah
3.3 PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL DENGAN PENDEKATAN EMPAT SEKTOR
Perhitungan pendapatan keseimbangan 3 sektor terdiri dari variabel konsumsi (C) investasi (I), pengeluaran pemerintah (G), pajak (TX) pembayaran transfer (Tr), ekspor (X) dan impor (M).
Y = C + I + G (X – M)
(C = a + bYd => Yd = Y – Tx + Tr)
Y = a + b (Y – Tx + Tr) + I + G + (X – M)
Y = a + bY – bTx + bTr + I + G + (X– M)
Y – bY = a – bTx + bTr + I + G + (X– M)
(1 – b) Y = a – bTx + bTr + I + G + (X– M)

Y = a – bTx + bTr + I + G + (X – M)
   1 – b

Contoh: Dimisalkan (dalam milyar rupiah) fungsi konsumsi (C) = 20 + 0,75Y. Besarnya investasi (I) = 10, pengeluaran pemerintah (G) = 8, pajak (TX) = 6, pembayaran transfer (Tr) = 5, ekspor (X) = 4 dan impor (M) = 3, maka besarnya pendapatan nasional dengan pendekatan 3 sektor adalah sebagai berikut.
Jawab:
Y = a – bTx + bTr + I + G + (X – M)
                            1 – b
 = 20 – 0,75(6) + 0,75(5) + 10+ 8 + (4-3)
                          1 – 0,75
 = 153 milyar rupiah
4.     PERHITUNGAN ANGKA PENGGANDA (K)
Uraian mengenai proses multiplier dengan menggunakan contoh angka dapat menerangkan bagaimana proses tersebut wujud, tetapi tidak menerangkan secara jelas bagaimana menentukan besarnya nilai multiplier. Penghitungan nilai multiplier dapat dengan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan aljabar.
Dalam perekonomian tiga sektor, perubahan perbelanjaan agregat bukan saja diakibatkan oleh perubahan dalam investasi, tetapi juga oleh pajak dan pengeluran pemerintah. Besarnya nilaimultiplier dari perubahan berbagai faktor tersebut akan diterangkan dalam uraian berikut ini.
Empat jenis multiplier akan ditentukan besarnya, yaitu: multiplier investasi, pengeluaran pemerintah, pajak dan anggaran belanja seimbang. Penghitungan nilai multiplier yang akan diterangkan menggunakan pemisalan-pemisalan di bawah ini:
1.     Fungsi konsumsi adalah C = a + bYd.
2.     Dua bentuk sistem pajak akan digunakan. Dalam contoh yang pertama pajaknya adalah pajak tetap, yaitu T = Tx, sedangkan dalam contoh kedua pajaknya adalah pajak proporsional, yaitu: T = tY.
3.     Fungsi investasi yang asal adalah I dan fungsi pengeluaran pemerintah yang asal adalah G.
Ysekarang  = Ysebelum + Tambahan Y (∆Y)
∆Y          = K . ∆I
Dimana K adalah angka pengganda.
4.1 PERHITUNGAN ANGKA PENGGANDA DENGAN PENDEKATAN DUA SEKTOR 
Contoh: Dimisalkan (dalam milyar rupiah) fungsi konsumsi (C) = 20 + 0,75Y dan besarnya investasi (I) = 10, maka pendapatan keseimbangan sebesar 120. Apabila terdapat tambahan investasi sebesar 2, maka pendapatan sekarang adalah sebagai berikut:
Jawab:
∆Y    = K . ∆I
∆Y = 4 . 2 = 8
Ysekarang  = Ysebelum + Tambahan Y (∆Y)
Ysekarang  = 120 + 8 = 128 milyar rupiah

4.2 PERHITUNGAN ANGKA PENGGANDA DENGAN PENDEKATAN TIGA SEKTOR

Contoh: Dimisalkan (dalam milyar rupiah) fungsi konsumsi (C) = 20 + 0,75Y. Besarnya investasi (I) = 10, pengeluaran pemerintah (G) = 8, pajak (TX) = 6 dan pembayaran transfer: (Tr) = 5.
Ditanya:
1.     Berapa pendapatan sekarang (Ysek), apabila terdapat tambahan pajak sebesar 2.
2.     Berapa pendapatan sekarang (Ysek), apabila terdapat tambahan pembayaran transfer sebesar 2.
3.     Berapa pendapatan sekarang (Ysek), apabila terdapat tambahan investasi sebesar 2.
4.     Berapa pendapatan sekarang (Ysek), apabila terdapat tambahan pengeluaran pemerintah sebesar 2.
Jawab:
1.     Apabila terdapat tambahan pajak
∆Y    = K . ∆I
∆Y    = (-3) . 2 = -6
Ysekarang  = Ysebelum + Tambahan Y (∆Y)
Ysekarang  = 120 + (-6) = 114 milyar rupiah
1.     Apabila terdapat tambahan pembayaran transfer
∆Y    = K . ∆I
∆Y    = 3 . 2 = 6
Ysekarang  = Ysebelum + Tambahan Y (∆Y)
Ysekarang  = 120 + 6 = 126 milyar rupiah
1.     Apabila terdapat tambahan investasi
∆Y    = K . ∆I
∆Y    = 4 . 2 = 8
Ysekarang  = Ysebelum + Tambahan Y (∆Y)
Ysekarang  = 120 + 8 = 128 milyar rupiah
1.     Apabila terdapat tambahan pengeluaran pemerintah
∆Y    = K . ∆I
∆Y    = 4 . 2 = 8
Ysekarang  = Ysebelum + Tambahan Y (∆Y)
Ysekarang  = 120 + 8 = 128 milyar rupiah

4.3 PERHITUNGAN DENGAN PENDEKATAN EMPAT SEKTOR
Contoh: Dimisalkan (dalam milyar rupiah) fungsi konsumsi: C = 20 + 0,75Y. Besarnya investasi (I) = 10, pengeluaran pemerintah (G) = 8, pajak (TX) = 6, pembayaran transfer (Tr) = 5, ekspor (X) = 4 dan impor (M) = 3.
Ditanya:
1.     Berapa pendapatan sekarang (Ysek), apabila terdapat tambahan pajak sebesar 2.
2.     Berapa pendapatan sekarang (Ysek), apabila terdapat tambahan pembayaran transfer sebesar 2.
3.     Berapa pendapatan sekarang (Ysek), apabila terdapat tambahan investasi sebesar 2.
4.     Berapa pendapatan sekarang (Ysek), apabila terdapat tambahan pengeluaran pemerintah sebesar 2.
5.     Berapa pendapatan sekarang (Ysek), apabila terdapat tambahan ekspor sebesar 2.
6.     Berapa pendapatan sekarang (Ysek), apabila terdapat tambahan impor sebesar 2.
Jawab:
1.     Apabila terdapat tambahan pajak
∆Y    = K . ∆I
∆Y    = (-3) . 2 = -6
Ysekarang  = Ysebelum + Tambahan Y (∆Y)
Ysekarang  = 120 + (-6) = 114 milyar rupiah
1.     Apabila terdapat tambahan pembayaran transfer
∆Y    = K . ∆I
∆Y    = 3 . 2 = 6
Ysekarang  = Ysebelum + Tambahan Y (∆Y)
Ysekarang  = 120 + 6 = 126 milyar rupiah
1.     Apabila terdapat tambahan investasi
∆Y    = K . ∆I
∆Y    = 4 . 2 = 8
Ysekarang  = Ysebelum + Tambahan Y (∆Y)
Ysekarang  = 120 + 8 = 128 milyar rupiah
1.     Apabila terdapat tambahan pengeluaran pemerintah
∆Y    = K . ∆I
∆Y    = 4 . 2 = 8
Ysekarang  = Ysebelum + Tambahan Y (∆Y)
Ysekarang  = 120 + 8 = 128 milyar rupiah
1.     Apabila terdapat tambahan ekspor
∆Y    = K . ∆I
∆Y    = 4 . 2 = 8
Ysekarang  = Ysebelum + Tambahan Y (∆Y)
Ysekarang  = 120 + 8 = 128 milyar rupiah
1.     Apabila terdapat tambahan impor
∆Y    = K . ∆I
∆Y    = (-4) . 2 = -8
Ysekarang  = Ysebelum + Tambahan Y (∆Y)
Ysekarang  = 120 + (-8) = 112 milyar rupiah






BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari hasil penulisan makalah diatas maka dapat kita simpulkan bahwa : Perhitungan pendapatan nasional dapat dilakukan dengan tiga pendekatan,  yaitu : pendekatan pendpatan, pendekatan produksi dan pendekatan pengeluaran. Pendekatan pendapatan dilakukan dengan menghitung jumlah pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi, yaitu tenaga kerja, tanah, modal, dan skill Pendekatan produksi dilakukan dengan menghitung jumlah barang dan jasa yang diproduksi berdasarkan sektor lapangan usaha yang terdiri dari 9 sektor utama. Pendapatan perkapita adalah pendapatan rata-rata untuk masing-masing penduduk dalam suatu Negara selama satu tahun. Dengan kata lain, pendapatan perkapita adalah nilai jumlah barang dan jasa yang tersedia bagi setiap penduduk suatu Negara dalam satu tahun.













DAFTAR PUSTAKA

Pratama Raharja dan Mandala Manurung, Teori Ekonomi makro, FE Universitas Indonesia
rosihan.lecture.ub.ac.id/files/…/makro_04_pendapatannasional.ppt3232
learning.upnjatim.ac.id/courses/TEORIEKONOMI/…/BAB_IX

No comments:

Post a Comment